Senin, 10 Oktober 2022

UANG DALAM PERTUMBUHAN EKONOMI MAKRO INDONESIA DARI TINJAUAN EKONOMI MAKRO

Zafirah Henny Utami

Mahasiswi Program Manajemen STIE MBI/LP3I

NIM : 22010184


Pendahuluan 

Peran Uang Dalam Pertumbuhan Ekonomi Suatu Negara

    Peranan uang dalam perekonomian nasional suatu negara dapat dilihat dan dipahami melalui pendekatan Flows atau Turn Overs dari jumlah uang beredar. Jumlah uang beredar merupakan cerminan keseimbangan Moneter dari permintaan masyarakat akan uang (Money Demand). Money Demand sendiri merupakan fungsi MatematisEkonomi dari National Income (GDP) dan Tingkat Suku Bunga (Interest Rate). – dimana variabel-variabel tersebut merupakan variabel independen yang mempengaruhi secara Signifikan dalam model persamaan Money Demand.

        Peran uang dalam perekonomian dapat di ibaratkan darah yang mengalir dalam tubuh manusia. Jika kekurangan darah, manusia seakan-akan hendak mati. Demikian juga ketika kita kekurangan uang, bagaikan kekurangan darah, akan mengakibatkan gairah hidup manusia menurun dan melemah. Untuk itu manusia berlomba-lomba mencari uang dari pagi ke pagiagar mereka bisa memenuhi kebutuhan hidupnya. Namun, tidak sedikit orang yang menghalalkan segala cara demi terkumpulnya pundi-pundi rupiah, seseorang mampu melakukan apa saja misalnya mencuri, penjadi pembunuh bayaran, dll yang di haramkan oleh agama. Dengan demikian dapat kita pahami bahwa uang memiliki tiga peran utama dalam menompang perekonomian masyarakat, yaitu sebagai alat tukar, sebagai satuan hitung, dan sebagai penyimpan uang.

  1. Uang sebagai alat tukar (medium of exchange) yaitu dengan adanya uang seseorang bisa menukarkan dengan apa saja yang mereka inginkan, yaitu dengan perkembangan zaman sekarang, kebutuhan-kebutuhan hidup semakin banyak, dan dengan sifat manusia yang tidak pernah merasa cukup dan mersa puas, dengan adanya uang mampu mencukupi dan memuaskan apa saja yang mereka inginkan.
  2. Uang sebagai satuan hitung (unit of account) yaitu dengan uang seseorang bisa menghitung kegunaan, kualitas dan manfaat suatu barang dan jasa, karena semakin mahal barang dan jasa maka kualitas dan mutu barang dan jasa itu pun semakin baik.
  3. Uang sebagai alat penyimpan (store of value) yaitu dengan adanya uang kita bisa menabung, dan dengan uang juga kita bisa membeli emas, perak dll yang bisa kita simpan untuk kita gunakan di masa depan dan di saat kita membutuhkan. Oleh karena itu, pengaruh uang terhadap perekonomian sangat lah berpengaruh, maju tidaknya perekonomian seseorang ditentukan dengan seberapa banyak uang yang mereka miliki. Semakin banyak uang yang mereka miliki maka perekonomian mereka akan tercukupi. Namun tidak dengan mereka yang tidak memiliki banyak uang, hidup mereka tidak akan terjamin, kesehatan, pangan, papan akan serba kesulitan.
Latar Belakang 
Penggunaan Uang Dalam Perekonomian

        Uang merupakan salah satu hal penting dalam kegiatan perekonomian di seluruh dunia. Uang adalah seperangkat aset dalam perekonomian yang digunakan seseorang secara rutin untuk membeli barang–barang atau jasa dari orang lain. Salah satu fungsi uang adalah sebagai alat tukar. Uang muncul menggantikan sistem perdagangan barter yang dianut masyarakat sebelum era modern. Mata uang umumnya akan berlaku sebagai alat pembayaran yang sah dalam wilayah tertentu, sebagai contoh mata uang Rupiah merupakan alat pembayaran yang sah di Indonesia. Pertukaran antara dua mata uang yang berbeda disebut kurs atau nilai tukar. Nilai tukar mata uang mencerminkan keseimbangan permintaan dan penawaran terhadap mata uang dalam negeri maupun mata uang asing. Nilai tukar mata uang cenderung berubah seiring waktu, sehingga harus diperhatikan dalam melakukan investasi.
        Investasi merupakan penanaman modal sekarang, guna mendapatkan manfaat (balas jasa atau keuntungan) dikemudian hari. Namun dalam berinvestasi tidak selalu menguntungkan ada halnya orang yang berinvestasi mengalami kerugian. Oleh karena itu dalam investasi kita harus bisa memperkecil resiko kerugian. Resiko merupakan suatu kemungkinan akan terjadinya hasil yang tidak diinginkan, yang dapat menimbulkan kerugian apabila tidak diantisipasi sebagaimana mestinya. Resiko tidak harus dihindari, melainkan kita harus memperhitungkannnya. 


Pembahasan
1. Pengertian Uang Sebagai Alat Tukar dan Alat Ekonomi

    Uang sebagai alat tukar guna mempermudah kita untuk mendapatkan suatu barang. Dengan begitu, kita dapat menghemat waktu serta tenaga karena tinggal menukarkan uang untuk membeli kebutuhan.
    Sebagai alat pertukaran, maka keberadaan uang menjadi sangat penting dalam perekonomian. Suatu benda dapat dijadikan sebagai "uang" jika benda tersebut telah memenuhi syarat-syarat tertentu. Beberapa syarat-syarat uang antara lain : 
     1. Diterima secara umum (acceptability). Uang harus dapat diterima oleh seluruh masyarakat tanpa terkecuali. Agar dapat diakui sebagai alat tukar umum suatu benda harus memiliki nilai tinggi atau setidaknya dijamin keberadaannya oleh pemerintah yang berkuasa. 

    2. Memiliki nilai yang cenderung stabil (stability og value). Nilai uang seharusnya stabil, tidak berfluktuasi dari waktu ke waktu.

    3. Ringan dan mudah dibawa (portability). Keberadaan uang seharusnya tidak memberatkan pemiliknya dan mudah dibawa kemana-mana dan mudah dibagi tanpa mengurangi nilai (divisibility). 

    4. Tahan lama (durability). Uang harus memiliki sifat tahan lama dan tidak mudah rusak, oleh karena itu pemilihan bahan sanggat menentukan ketahanan uang. 

    5. Kualitasnya cenderung sama (uniformity). Uang harus memiliki kualitas yang cenderung sama. 


2. Definisi Uang dan Ekonomi

       Dalam kehidupan sehari-hari, uang didefinisikan sebagai sesuatu yang disetujui dan diterima oleh masyarakat sebagai alat perantara untuk melakukan pertukaran atau perdagangan. Berdasarkan definisi tersebut, uang dapat berupa barang yakni pada sistem pertukaran barter. Sejarah uang memang dimulai dengan barter, kemudian uang komoditi dan dalam perkembangnya kebanyakan alat transaksi dilakukan dengan menggunakan uang kertas, cek bahkan sampai uang plastik. Uang dalam ilmu ekonomi tradisional didefinisikan sebagai setiap alat tukar yang dapat diterima secara umum. Alat tukar itu berupa benda apa saja yang dapat diterima oleh setiap orang di masyarakat dalam proses pertukaran barang dan jasa. Sementara itu uang dalam ilmu ekonomi modern didefinisikan beberapa ahli sebagai berikut: 
1. A.C Pigou; dalam bukunya The Veil of Money pada tahun 1950-an mengatakan bahwa yang dimaksud uang segala sesuatu yang dipergunakan sebagai alat tukar. 
2. D.H Robertson; dalam bukunya Money 1922 mengatakan bahwa uang adalah sesuatu yang bisa diterima dalam pembayaran untuk mendapatkan barang-barang. 
3. R.G Thomas; dalam bukunya Our Modern Banking, menjelaskan uang adalah sesuatu yang tersedia dan secara umum diterima sebagai alat pembayaran bagi pembelian barang-barang dan jasa-jasa serta kekayaan berharga lainnya serta untuk pembayaran utang. 
4. R.S. Sayers dalam bukunya Modern Banking, 1938 mengatakan bahwa uang adalah segala sesuatu yang diterima sebagai pembayar hutang. 
5. Albert Gailorrt Hart dalam bukunya Money Debt And Economic Activity pada tahun 1950an mengatakan bahwa uang adalah kekayaan dimana si pemilik dapat meluaskan hutangnya dalam jumlah tertentu pada waktu itu juga 6. Rollin, G. Thomas dalam bukunya Our Modern Banking And Monetary System tahun 1957 mengatakan bahwa uang adalah segala sesuatu yang siap sedia dan biasanya diterima umum dalam pembayaran pembelian barang-barang, jasa-jasa dan pembayaran hutang (Rahardjo, 2009). 


3. Dampak Baik dan Buruknya Dari Pengendalian Jumlah Uang Beredar Dalam Sebuah Negara

     Dampak baik dari pengendalian jumlah uang yang beredar : Jumlah uang beredar harus dapat dikendalikan sesuai dengan kapasitas perekonomian suatu negara, yaitu diupayakan agar jumlah uang yang beredar tidak terlalu ban yak, dan juga tidak terlalu sedikit. Pengendalian jumlah uang beredar perlu dilakukan oleh Bank Sentral sebagai otoritas moneter dengan kebijakan-kebijakannya dalam mengendalikan jumlah uang beredar. Pada kenyatannya peredaran jumlah uang dipengaruhi oleh aktivitas pasar, dimana Bank Sentral, Lembaga Keuangan dan masyarakat saling berinteraksi dalam menetapkanjumlah uang yang beredar. Oleh karena itu Bank Indonesia sebagai Bank Sentral di Indonesia membutuhkan informasi tentang perkembangan dan perilaku jumlah uang beredar di masyarakat. Hal ini digunakan agar Bank Indonesia selaku otoritas moneter dapat menentukan kebijakan moneter dengan baik dan tepat, sehingga roda perekonomian dapat berjalan dengan baik. 

    Inflasi adalah peningkatan harga secara umum yang berlangsung secara terus-menerus. Salah satu hal yang tidak dapat dihindarkan dari inflasi adalah nilai mata uang yang terus menurun dari tahun ke tahun atau dalam periode waktu tertentu.
Lantas, apa saja dampak positif dan negatif inflasi terhadap negara? Inflasi terjadi di setiap negara, baik maju maupun berkembang. Gejala ekonomi ini tidak dapat dihilangkan. Karena itu, upaya-upaya yang dilakukan hanya sebatas mengurangi dan mengendalikan nilainya. Kenaikan harga beberapa barang dan jasa dengan cepat dan sementara, seperti saat Lebaran atau hari raya lain tidak bisa disebut sebagai inflasi meski sangat memberatkan masyarakat.

Alasannya, syarat terjadinya inflasi yakni kenaikan harga berlangsung dalam waktu yang lama dan meliputi hampir seluruh barang dan jasa. Terdapat sejumlah dampak positif dan negatif inflasi terhadap negara yang tidak dapat dipisahkan dari kegiatan perekonomian masyarakat:

     1. Dampak inflasi terhadap pendapatan
Inflasi yang terkendali akan meningkatkan kegiatan perekonomian warga di suatu negara. Salah satu contohnya, inflasi akan mendorong berkembangnya ekonomi karena permintaan barang dan jasa meningkat sehingga membuat harganya naik. Hal tersebut dapat mendorong para pengusaha memperluas produksi sehingga memberikan lapangan kerja baru. Namun, bagi masyarakat yang penghasilannya tetap atau tidak meningkat dari tahun ke tahun, inflasi akan membuatnya rugi. Alasannya, total pendapatan yang tetap itu jika ditukarkan dengan barang dan jasa, maka hasil yang didapatnya akan lebih sedikit.

Contohnya, seseorang yang memiliki uang Rp 100.000 di tahun 2000 dapat membeli banyak barang di pusat perbelanjaan. Hal itu akan berbeda jika seseorang tersebut memiliki jumlah uang yang sama di tahun 2022, barang yang akan didapatkannya di tempat belanja yang sama akan jauh lebih sedikit.

    2. Dampak inflasi terhadap perekonomian nasional
Inflasi dapat berdampak pada banyak hal dari segi perekonomian nasional, antara lain:
  • Investasi berkurang
  • Mendorong tingkat bunga
  • Mendorong penanam modal yang bersifat spekulatif
  • Menciptakan kegagalan pelaksanaan pembangunan
  • Menciptakan ketidakpastian keadaan ekonomi pada masa yang akan datang
  • Menyebabkan daya saing produk nasional berkurang
  • Menimbulkan defisit neraca pembayaran; dan pada akhirnya
  • Mengakibatkan merosotnya tingkat kehidupan dan kesejahteraan masyarakat.
     3. Dampak inflasi menurunkan minat menabung
Inflasi akan membuat minat menabung kebanyakan orang berkurang karena nilai uang yang yang terus menurun. Saat inflasi, pendapatan dari bunga tabungan relatif lebih kecil, di sisi lain nasabah mesti membayar biaya administrasi tabungannya.
    4. Dampak Inflasi terhadap kreditur dan debitur
Saat terjadi inflasi, debitur atau orang yang berutang dengan bunga pinjaman tetap akan diuntungkan karena bunga yang ditanggungnya menurun seiring menurunnya nilai mata uang. Sementara itu, bagi kreditur atau yang meminjamkan uang, mereka akan mengalami kerugian karena nilai mata uangnya yang kelak dikembalikan lebih rendah daripada saat dipinjamkannya.
    5. Dampak inflasi bagi produsen
Inflasi umumnya akan berdampak baik bagi pengusaha besar dan berdampak buruk bagi pengusaha kecil.
Inflasi akan berdampak positif bagi produsen yang memiliki pendapatan lebih tinggi dari kenaikan biaya produksi. Namun, hal ini berbanding terbalik jika produsen merasa inflasi membuat biaya produksinya membengkak dan membuatnya rugi sehingga memilih tidak meneruskannya.

Cara Mengatasi Inflasi:
Ada 3 cara mengatasi inflasi yang dapat dilakukan pemerintah, yakni dengan mengurangi jumlah uang yang beredar, memperbanyak jumlah barang dan jasa, serta menetapkan harga maksimum agar harga barang maupun jasa yang dijual tidak terus naik. Berikut penjelasannya.
(1.) Kebijakan Moneter
Kebijakan moneter meliputi 5 hal: (i) kebijakan diskonto yakni menaikkan suku bunga; (ii) kebijakan pasar terbuka dengan menjual surat berharga (SBI); (iii) kebijakan pembatasan kredit dengan mengatasi pemberian pinjaman; (iv) Mengurangi uang yang beredar; dan (v) kebijakan giro wajib minimum dengan menaikkan cadangan kas.
(2.) Kebijakan Fiskal
Kebijakan fiskal atau kebijakan anggaran adalah kebijakan yang dilakukan pemerintah dengan mengubah penerimaan dan pengeluaran negara. Pengeluaran pemerintah (APBN) dan penetapan tarif pajak akan diatur dalam kebijakan ini.
(3.) Kebijakan Non Moneter dan Non Fiskal
Kebijakan ini meliputi: (i) mengatur peningkatan produksi dan jumlah barang dipasar; (ii) kebijakan upah dengan menaikkan upah riil yang sudah memperhitungkan inflasi; dan (iii) pengendalian dan pengawasan harga, misalnya pemerintah menetapkan kebijakan harga maksimum atau minimum.
Demikian dampak positif dan negatif inflasi terhadap negara beserta tiga cara mengatasi inflasi yang dapat dilakukan pemerintah.

4. Penyebab Terjadinya Penurunan Nilai Mata Uang Suatu Negara

     Kestabilan nilai tukar mata uang bagi sebuah negara sangat penting. Namun pada kenyataannya nilai tukar mata uang berfluktuasi secara cepat dari waktu ke waktu. Naik turunnya nilai tukar mata uang di pasar uang menunjukkan besarnya volatilitas yang terjadi pada mata uang suatu negara dengan mata uang negara lain. Volatilitas merupakan jarak antara fluktuasi/naik turunnya nilai tukar mata uang. Volatilitas yang semakin tinggi menunjukkan pergerakan kurs atau nilai tukar yang semakin besar. Nilai tukar mata uang dan tingkat volatilitas dapat dianalisis dengan menggunakan analisis deret waktu. Model yang digunakan dalam pemodelan deret waktu yaitu model Autoregressive Integrated Moving Average (ARIMA). Memodelkan tingkat fluktuasinya (volatilitas) digunakan model Autoregressive Conditional Heteroscedasticity (ARCH) yang dikemukakan oleh Engle tahun 1982 dan disempurnakan lagi oleh Tim Bollerslev tahun 1986 dengan model Generalized autoregressive conditional Heteroscedasticity (GARCH) dan untuk melakukan pengukuran resiko terhadap kemungkinan kerugian yang akan dialami digunakan Value at Risk (VaR). Value at Risk merupakan metode perhitungan untuk menentukan resiko kerugian maksimum yang dapat terjadi. 

      Mata uang yang sangat berpengaruh di dunia yaitu Dolar Amerika (USD), karena Dolar Amerika (USD) banyak digunakan sebagai pertukaran mata uang di negara-negara di dunia. Dolar Amerika juga dijadikan patokan bagi perekonomian suatu negara. Kelebihan Dolar Amerika dapat dijadikan cadangan devisa diluar negara Amerika. Selain itu, Jepang adalah negara yang berpengaruh di Asia. Mata uang resmi bagi negara Jepang yaitu Yen Jepang (JPY). Yen Jepang merupakan mata uang ke-3 terbesar yang diperdagangkan di pasar uang setelah Dolar Amerika 3 dan Euro. Oleh karena itu, pada penelitian ini nilai tukar mata uang Dolar Amerika (USD) terhadap Rupiah dan Yen Jepang (JPY) terhadap Rupiah sangat menarik untuk diteliti.


5. Uang Menjadi Indikator Tingkat Kesejahteraan dan Maju Mundurnya Perekonomian Suatu Negara

    Pendapatan perkapita berguna untuk melihat rata-rata pendapatan masyarakat dari suatu negara, maka dengan ini fungsi pendapatan perkapita untuk mengetahui perkembangan suatu negara. Apakah pada tahun ke tahun terdapat pembangunan atau malah tidak ada pembangunan.

    Dengan meningkatnya pendapatan perkapita, maka data tersebut dapat dijadikan acuan suatu negara apakah tahun berikutnya dan seterusnya pendapatan perkapita akan naik. Maka pemerintah dapat mengambil suatu kebijakan di masa sekarang sampai masa yang akan datang.

  Fungsi pendapatan perkapita berguna untuk meninjau kualitas ekonomi masyarakat di suatu negara dalam waktu tertentu. Hal ini karena data pendapatan perkapita sebagai analisis dalam evaluasi negara. Dengan ini negara bisa melihat kurang nya dimana serta langkah apa yang akan diambil kedepannya.

   Dengan adanya pendapatan perkapita, suatu negara dapat menilai apakah aktivitas ekonomi berjalan dengan lancar. Negara dapat menilai hal tersebut dengan data pendapatan perkapita.

6. Bagaimana Upaya Pemerintah Menjaga, Mempertahankan dan Meningkatkan Nilai Mata Uang Negara (Rupiah Indonesia)
    Demi menjaga stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar USD serta menurunkan defisit neraca berjalan yang semakin melebar. Pemerintah Pusat bersama dengan Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan beberapa instansi yang terkait terus berusaha bersama membuat kebijakan.

      Salah satu yang menyebabkan rupiah mengalami pelemahan karena banyaknya impor di sepanjang tahun ini dan menyebabkan Indonesia mengalami defisit neraca perdagangan. Untuk itu, pemerintah menyiasatinya dengan membuat aturan mengenai kenaikan pajak penghasilan PPh teradap barang impor.

        Langkah nyata yang sedang diupayakan pemerintah yakni dengan kebijakan penggunaan B20 atau Biodiesel 20 persen yang diperkirakan akan mengurangi jumlah impor minyak. Dengan penggunaan CPO (Crude Palm Oil) yang dipakai sendiri untuk B20, maka suplai ke pasar juga turun, sehingga harga CPO juga ikut naik.

        Langkah berikutnya dengan meningkatkan penggunaan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) untuk seluruh sektor. Hal tersebut diharapkan dapat mengurangi impor dan akan ada penghematan 2-3 miliar USD.

    BI pun terus berupaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dengan mengeluarkan kebijakan intervensi ganda baik di pasar valuta asing (valas) maupun pemberian SBN dari pasar sekunder. BI juga sudah menyediakan swap valas dengan tingkat harga yang murah. Pembagiannya, untuk sesi pagi BI melakukan swap valas dalam rangka pengelolaan likuiditas. Sementara di sore, BI juga menyediakan swap valas hedging bagi korporasi-korporasi yang mempunyai underlying transaksi baik dari ekspor atau devisa utang luar negeri maupun devisa-devisa lain.

    Dalam hal meningkatkan investasi dan ekspor, pemerintah pun sudah meluncurkan One Single Submission (OSS) atau layanan perizinan berusaha yang terintegrasi secara elektronik. Upaya lain yang tak kalah penting dengan menggenjot sektor pariwisata, dimana dengan menambah jumlah wisatawan mencanegara berkunjung ke Indonesia, akan menambah cadangan valas dari devisa.

Studi Kasus Dalam Mengatasi / Mengendalikan Jumlah Uang Beredar

    Pertumbuhan Jumlah Uang Beredar (JUB) MI dari tahun 2003 ke tahun 2004 sebesar 13,08 persen. Peningkatan Ml disumbang oleh peningkatan uang kartal dan uang giral. Peningkatan ini sejalan dengan meningkatnya pendapatan nasional tahun 2004 yaitu sebesar Rp 2.295.826 milyar. Pada tahun ini Bank Indonesia menetapkan kebijak:an moneter yang longgar (cautious easing). Dengan kebijakan moneter yang ditempuh Bank Indonesia ini pertumbuhan uang beredar mengalami perkembangan yang positif, meskipun sedikit melampaui perkiraan. Sementara itu, turunnya suku bunga acuan mendorong suku bunga deposito ikut turun menjadi 7,07 persen dimana pada tahun sebelumnya suku bunga deposito sebesar 10,39 persen. Sejalan dengan kebijak:an moneter yang longgar, pengendalian di sisi likuiditas adalah dengan menyerap kelebihan likuiditas perbankan yang belum dapat dimanfaatkan oleh sektor riil maka salah satu penyerapan likuiditas ini dilakukan melalui penetapan Giro Wajib Minimum (GWM) rupiah bank umum yang sebesar 5-8 persen secara proporsional terhadap jumlah dana pihak ketiga (DPK) yang dimiliki oleh masing-masing bank (berlaku efektif sejak tanggal 1 Juli 2004). Kemudian pada tahun 2005 jumlah uang beredar Ml mengalami peningkatan sebesar 9,29 persen atau Rp 271.140 milyar dengan diikuti peningkatan pendapatan nasional menjadi sebesar Rp 2.774.281 milyar. Namun peningkatan Ml ini tidak diikuti dengan pertumbuhan Ml yang baik bahkan M1 menga1ami penurunan dari tahun sebe1umnya menjadi sebesar 10,5 persen. Penurunan ini terutama didorong o1eh lebih rendahnya realisasi defisit fiskal, kebijakan pembayaran subsidi langsung dalam valuta asing kepada Pertamina. Tahun 2005 ini tingginya ekses likuiditas perbankan dan tingginya inflasi yang mencapai 17,1 persen, membuat BI mengambil langkah pengetatan melalui kenaikan BI rate yang diikuti dengan meningkatnya tingkat suku bunga deposito untukjangka waktu 12 bulan pada bank umum menjadi 10,95 persen. Kebijakan mengambil langkah pengetatan melalui kenaikan · BI Rate ini diperkuat dengan kenaikan GWM. Kebijakan menaikkan GWM ditetapkan pada September 2005 dilakukan secara proporsional atas dasar pencapaian Loan to Deposit Ratio (LDR) bank secara individual 5 sampai 8 persen.

    Pertumbuhan jumlah uang beredar M1 kembali naik pada tahun 2006 sebesar 21,86 persen menjadi sebesar Rp 347.013 milyar peningkatan ini diikuti dengan peningkatan pendapatan nasional yaitu sebesar Rp 3.339.217 milyar. Lonjakan peningkatan jumlah uang beredar ini dikarenakan tingginya permintaan uang kartal seiring dengan faktor musiman seperti libur sekolah, bulan puasa, serta Natal dan Tahun Baru yang hampir berdekatan waktu pelaksanaannya. Peningkatan pertumbuhan M1 tidak diikuti dengan meningkatnya inflasi justru inflasi pada tahun ini mengalami penurunan menjadi 6,6 persen. Pada tahun ini Bank Indone~ia cenderung menempuh kebijakan moneter ketat (tight biased) dengan mempertahankan BI Rate pada level 12,75 persen yang selanjutnya sejak Mei 2006 menurunkannya secara terukur dan hati-hati (cautious easing) menjadi 9, 75 persen. Namun penurunan BI Rate ini tidak sejalan dengan tingkat suku bunga deposito yang naik menjadi 11,63 persen, sementara itu GWM yang ditetapkan secara proporsional atas dasar pencapaian Loan to Deposit Ratio (LDR) bank secara individual 5 sampai 8 persen.

    Kemudian pada tahun 2007 dimana pada tahun ini peningkatan jumlah uang beredar naik sebesar 22,90 persen yaitu sebesar Rp 450.056 milyar. Pertumbuhan likuiditas perekonomian tersebut dapat dikategorikan tinggi apabila dibandingkan dengan kondisi dalam 5 tahun terakhir. Peningkatan jumlah uang beredar M1 diikuti dengan pendapatan masyarakat sebesar Rp 3.950.893 milyar. Peningkatan pertumbuhan M1 ini terutama disumbang oleh cukup tingginya pertumbuhan uang kartal di masyarakat selaras dengan berlanjutnya ekspansi perekonomian di sektor riil. Dengan tingginya pertumbuhan Ml pada tahun ini tidak diikuti dengan tingkat inflasi yang naik maupun tul'U1l, bahkan menunjukkan tingkat inflasi tahun 2007 ini tetap bertahan pada level 6,6 persen. Disarnping itu penurunan BI Rate mempengaruhi koinponen likuiditas perekonomian. BI rate direspons kuat oleh tingkat suku bunga deposito. Kuatnya respons tersebut mencerminkan kondisi ekses likuiditas dan sejalan dengan perkembangan suku bunga penjaminan deposito rupiah. Suku bunga deposito rata-rata untuk keseluruhan tenor menurun lebih besar daripada menurunnya BI Rate pada periode ini menjadi sebesar 8,24 persen.

    Pada tahun 2008 jumlah uang beredar M1 menjadi Rp 456.787 milyar atau meningkat hanya I ,4 7 persen lebih kecil dibandingkan dari tahun sebelumnya. Meningkatnya jumlah uang beredar Ml diikuti pendapatan nasional yang meningkat menjadi Rp 4.954.028 milyar. Namun pertumbuhan jumlah uang beredar menurun yang lebih tajam dari tahun 2005 dimana pada tahun 2008 ini pertumbuhan jumlah uang beredar hanya berkisar 1,47 persen. Hal ini disebabkan perekonomian Indonesia mulai mendapat tekanan berat pada triwulan IV -2008 akibat terjadinya krisis global yang awalnya dialami oleh Amerika Serikat pada pertengahan 2007. Akibat tekanan krisis global ini tercermin pada perlambatan ekonomi secara signifikan terutama karena anjloknya kinerja ekspor. Disamping itu pertumbuhan permintaan M1 pada akhir tahun 2008 terkoreksi akibat tingginya inflasi yaitu sebesar 11,06 persen. Pemerintah bersama Bank Indonesia menempuh berbagai kebijakan untuk melonggarkan tekanan likuiditas dan memelihara stabilitas sistem keuangan. Dalam hal ini Bank Indonesia merespon dengan menurunkan kewajiban Giro Wajib Minimum (GWM) bank umum menjadi 7,5 persen. Adapun tujuan kebijakan moneter ini diambil untuk memberi perbankan kelebihan likuiditas.

    Pada masa pemulihan dari krisis, tahun 2009 jumlah uang beredar mengalami peningkatan sebesar 11,45 persen atau Rp 515.824 milyar dengan pendapatan nasional meningkat menjadi Rp 5.613.442 milyar. Peningkatan jumlah uang beredar ini dimungkinkan terjadi sebagai konsekuensi dari upaya pengelolaan likuiditas oleh Bank Indonesia serta asumsi masih cukup stabilnya angka pengganda uang dari likuiditas perekonomian da1am arti sempit (M1). Namun begitupun pertumbuhan M1 mengalami perlambatan yang merefleksikan besarnya dampak penurunan aktivitas perekonomian dibandingkan dengan pengaruh penurunan suku bunga deposito sebesar 9,55 persen dan GWM yang sebesar 5,03 persen. Disamping itu inflasi yang cendenmg menunm pada level 5,00 persen mengindikasikan mulai pulihnya kondisi makroekonomi di Indonesia.

    Dari penjelasan mengenai perkembangan jumlah uang beredar Ml diatas didapat beberapa indikator makroekonomi yang mempengaruhi jumlah uang beredar. Tabel 1.1 menggambarkan kondisi perkembangan jumlah uang beredar dan beberapa indikator makroekonomi Indonesia tahun 2003-2009.

    Dalam perkembangan jurnlah uang beredar Ml yaitu uang kartal ditambah uang giral di Indonesia tahun 2003 sebesar Rp 213.784 miliar kemudian terns meningkat sampai tahun 2009 sebesar Rp 515.824 miliar. Namun peningkatan jumlah uang beredar pada peri ode ini sangatlah fluktuatif. Fluktuasi peningkatan jumlah uang beredar terjadi setiap tahun, walaupun jumlah uang beredar meningkat setiap tahun. 

    Dari uraian perkembangan jumlah uang beredar diketahui bahwa pertumbuhan Ml mengalami fluktuasi. Fluktuasi ini terutama dapat dilihat pada tahun 2005, 2006 dan tahun 2008. Dimana fluktuasi menurun terjadi pada tahun 2005 dan pada tahun 2008 fluktuasi menurun yang lebih tajam dari tahun 2005. Sedangkan pada tahun 2006 terlihat fluktuasi yang meningkat tajam dari tahun sebelumnya. Gambar 1.1 menggambarkan graftk pergerakan fluktuasi jumlah uang beredar Ml pada periode 2003-2009.

    Berbagai kasus dan permasalahan jumlah uang beredar ini telah mendorong berbagai penelitian untuk mengetahui bagaimana variabel makroekonomi mempengaruhi jumlah uang beredar dalam perekonomian suatu negara. Aji (2007: 15) melakukan penelitian di Indonesia dengan menggunakan uji Granger Causality untu menguji hubungan antara tingkat suku bunga dan jumlah uang beredar (Ml). Penelitian ini menunjukkan bahwa jumlah uang beredar disebabkan oleh tingkat suku bunga. Disamping itu dalam penelitian ini diambil juga kesimpulan bahwa jumlah uang beredar dipengaruhi jumlah uang beredar tahun sebelumnya. Selain itu ekspektasi masyarakat terhadap perubahan harga barang dan tingkat bur.ga mempengaruhi jumlah uang beredar. 

    Berdasarkan penelitian Restiyanto (2008:90) yang dalam penelitiannya membandingkan jalur jumlah uang beredar dengan jalur kredit (Jalur Kuantitas) dalam efektifitas mekanisme transmisi di Indonesia sebelum dan sesudah krisis rnoneter. Hasil penelitian menyatakan bahwa tidak ada pengaruh suku bunga SBI, dan Inflasi terhadap Jumlah Uang Beredar (Ml) dan ada kenaikan PDB (Y) dan kenaikan Ml satu periode sebelumnya mempengaruhi kenaikan Ml di Indonesia. Terjadi penurunan jumlah uang beredar tiap periode apabila variabel PDB, suku bunga SBI, inflasi dan Jumlah uang beredar satu periode sebelumnya tetap.

    Pada penelitian yang dilakukan oleh Rangkuti (2008:64) dengan judul Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Permintaan Uang Kartal di Indonesia dengan menggunakan model OLS dengan variabel independen PDB, inflasi, nilai tukar, dan tingkat suku bunga. Kesimpulan dari penelitian ini adalah pendapatan, inflasi dan nilai tukar mempunyai pengaruh positif dan signiftkan terhadap permintaan uang kartal sedangkan variabel tingkat suku bunga berpengaruh negatif terhadap permintaan uang kartal.

  Fluktuasi (volatilitas) jumlah uang beredar di Indonesia kaitannya dengan perubahan variabel makroekonomi, sehingga dapat diketahui seberapa besar pengaruh variabel makroekonomi terhadap pergerakan jumlah uang beredar di Indonesia. Dalam penelitian ini digunakan model ARCH/ GARCH untuk melihat fenomena volatilitas jumlah uang beredar dan faktorfaktor yang mempengaruhinya.

Referensi

https://www.kompasiana.com/nendahitaoktasari/54f86674a33311ac028b457a/peran-uang-dalam-perekonomian

https://lib.ui.ac.id/file?file=digital/126693-6128-Analisis%20determinasi-Pendahuluan.pdf

http://scholar.unand.ac.id/19175/2/bab1p.pdf

https://www.ruangguru.com/blog/pengertian-fungsi-jenis-dan-syarat-uang

https://pustaka.ut.ac.id/lib/wp-content/uploads/pdfmk/ESPA422702-M1.pdf

https://indonesiabaik.id/infografis/langkah-untuk-menstabilkan-nilai-rupiah

https://www.gramedia.com/literasi/pendapatan-per-kapita/

https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20220306223516-537-768718/dampak-positif-dan-negatif-inflasi-terhadap-negara/1

http://digilib.unimed.ac.id/3444/5/809625016%20Bab%20I.pdf


Selasa, 25 April 2017

Belajar Bahasa Korea untuk pemula

안녕하세요 Halo

Huruf Korea atau Hangeul menurut sejarah diciptakan oleh Raja Sejong. Semua huruf Korea terdiri dari 24 huruf. Terdiri dari 10 huruf vokal dasar dan 14 huruf konsonan dasar. Yang selanjutnya dari vokal dasar dan konsonan dasar lebih dikembangkan lagi menjadi vokal rangkap dan konsonan rangkap.

Pengenalan Vokal Dasar

Huruf Korea vokal Dasar terdiri dari 10 huruf. Berikut huruf-huruf Korea vokal dasar beserta cara membacanya :

No Huruf Bunyi
1    a
2    ya
3    eo/o
4    yeo
5    o
6    yo
7    u
8    yu
9    eu/u
10    i

Pengenalan Konsonan Dasar

Huruf Korea konsonan dasar ini terdiri dari 14 huruf. Berikut adalah huruf Korea konsonan dasar beserta cara membacanya :

No Huruf Nama Bunyi Awal Bunyi Tengah Bunyi Akhir
1 kiyeok k/g g k
2 nieun n n n
3 tigeut t/d d t
4 rieul r/l r/l l
5 mieum m m m
6 pieup p/b b p
7 siot s s t
8 ieung ng
9 chieut ch j t
10 ch’ieut ch ch t
11 khieuk kh kh k
12 thieut th th t
13 phieup ph ph p
14 hieut h h t

Pengenalan Vokal Rangkap

Selanjutnya dari vokal dasar dan konsonan dasar tersebut kemudian dikembangkan lagi menjadi vokal rangkap dan konsonan rangkap. ketika mempelajari huruf Korea vokal dan konsonan rangkap tidak sulit lagi. Karena huruf Korea vokal dan konsonan rangkap hanya perkembangan dari vokal dan konsonan dasar. 

Berikut huruf Korea vokal rangkap yang terdiri dari 11 huruf gabungan dari vokal dasar :

No Huruf Bunyi Proses
1 ae/e 아 + 이
2 yae/ye 야 + 이
3 e 어 + 이
4 ye 여 + 이
5 oe 오 + 이
6 wa  오 + 아
7  wae/we 오 + 애
8 wo 우 + 어
9  we 우 + 에
10  wi 우 + 이
11 eui/ui 으 + 이

Pengenalan Konsonan Rangkap

Huruf rangkap hanya terdiri dari perkembangan huruf dasar. Maka huruf Korea konsonan rangkap pun perkembangan dari huruf Korea konsonan dasar. 

Berikut adalah huruf Korea konsonan rangkap yang terdiri dari 5 huruf :

No Huruf Bunyi Awal Bunyi Tengah Bunyi Akhir
1 kk kk k
2 tt tt
3 pp pp
4 ss ss t
5 cc cc


Cara Penulisan Hangeul dan Cara Membacanya

Nah sekarang Anda sudah mengenal semua huruf Korea yang terdiri dari Vokal & Konsonan Dasar serta Vokal & Konsonan Rangkap. Sekarang mari kita bahas cara penulisan dan cara membacanya. Dengan kata lain kita akan coba praktekkan huruf Korea tersebut kedalam rangkaian kata. Yang selanjutnya dari rangkaian kata tersebut bisa menjadi satu buah kalimat.
Adapun cara penulisan huruf Korea adalah persuku kata. Dengan demikian kosakata bahasa Korea merupakan terdiri dari suku kata atau bahkan terdiri dari gabungan beberapa suku kata. Selanjutnya dari suku kata bisa kita potong menjadi suku kata Konsonan dan Vokal (KV) atau Konsonan, Vokal, Konsonan (KVK).
Jika penerapan huruf Korea vokal yang berdiri sendiri penulisannya, maka huruf ㅇ masih berfungsi. Artinya huruf ㅇ tidak dihilangkan. Kecuali jika huruf vokal digabungkan dengan huruf konsonan maka huruf ㅇ dihilangkan.

  • Contoh :
우유 dibaca ‘uyu’ artinya ‘susu’
Selanjutnya didalam huruf Korea, terdapat 4 pola dasar penggabungan vokal dan konsonan yang harus Anda pahami.
Pertama adalah jika Konsonan bergabung dengan Vokal vertikal, maka berpola susun kesamping.
  • Contoh :
다리미 dibaca ‘tarimi’ artinya ‘setrika’
Kedua jika Konsonan bergabung dengan Vokal horizontal maka berpola susun kebawah.
  • Contoh :
포도 dibaca ‘phodo’ artinya ‘anggur’
Ketiga jika Konsonan bergabung dengan Vokal vertikal dan ada Konsonan akhir (bachim), maka ditulis seperti berikut :
  • Contoh :
신발 dibaca ‘sinbal’ artinya ‘sepatu’
Keempat jika  Konsonan bergabung dengan Vokal horizontal maka berpola susun tindih seperti contoh berikut :
  • Contoh :
공장 dibaca ‘kongjang’ artinya ‘pabrik’








Sumber : http://info-menarik.net/belajar-bahasa-korea-untuk-pemula-pengenalan-hangeul/#comment-28242

 

Selasa, 28 Maret 2017

Belajar Bahasa Korea

Contoh Bahasa Korea Bersifat Halus

안녕 하세요? dibaca “Annyeong haseyo” artinya (Apa kabar?).
안녕히 계세요 dibaca “Annyeonghi kyeseyo” artinya (Selamat tinggal).
안녕히 가세요 dibaca “Annyeonghi kaseyo” artinya (Selamat jalan).
고맙습니다 / 감사합니다 dibaca “Komapseumnida/Kamsahamnida” artinya (Terima kasih).
죄송합니다 / 미안합니다 dibaca “Choesonghamnida/Mianhamnida” artinya (Ma’af).
네 dibaca “Ne” artinya (Ya).
아니요 dibaca “Aniyo” artinya (Tidak/Bukan).

Contoh Bahasa Korea Bersifat Akrab/Kasar


안녕 dibaca “Annyeong” artinya (Apa kabar?).
잘 있어 dibaca “Chal isseo” artinya (Selamat tinggal).
잘 가 dibaca “Chal ga” artinya (Selamat jalan).
고마워 dibaca “Komawo” artinya (Terima kasih).
미안해 dibaca “Mianhae” artinya (Ma’af).
응 dibaca “Eung” artinya (Ya).
아니 dibaca “Ani” artinya (Tidak/Bukan).
Selain bersifat halus dan bersifat akrab/kasar, ada juga Bahasa Korea Formal dan Informal. Bahasa Korea Formal adalah bahasa yang digunakan untuk saat-saat yang bersifat formal (penting atau resmi). Mungkin kalau di Indonesia, bahasa Formal itu bahasa Yang Telah Disempurnakan (EYD). Contoh Bahasa Korea Formal seperti : 고맙습니다 dibaca “komapseumnida” artinya terimakasih. Dan biasanya Bahasa Korea Formal ini selalu diakhiri dengan kata 읍니디/읍니까.
Adapun Bahasa Korea Informal adalah bahasa yang biasa digunakan dalam kehidupan sehari, bahasa akrab, tapi bukan bahasa kasar. Pokoknya Bahasa Korea Informal ini, kebalikan dari bahasa Formal. Contoh Bahasa Korea Informal seperti : 고마워요 dibaca “komawoyo” artinya terimakasih. Biasanya Bahasa Korea Informal selalu diakhir dengan kata 오 dan 요.

Selasa, 27 Desember 2016

Marketing Mix

Pengertian Marketing Mix
Secara bahasa adalah Bauran Pemasaran, sedangkan menurut istilah marketing Mix adalah strategi pemasaran yang di laksanakan secara terpadu atau strategi pemasaran yang di lakukan secara bersamaan dalam menerapkan elemen strategi yang ada dalam marketing Mix itu sendiri.
Menurut pakar marketing dunia yaitu Kotler dan Amstrong pada tahun 1997 berbunyi : “Marketing mix as the set of controllable marketing variables that the firm bleads to produce the response it wants in the target market”.
Bahasa indonesianya kurang lebih : ” Marketing Mix adalah sekumpulan variable – variabel pemasaran yang dapat dikendalikan, yang digunakan oleh perusahaan untuk mengejar tingkat penjualan yang diinginkan dalam target pemasaran“.
Marketing Mix sendiri di dalamnya terdapat beberapa elemen marketing kalau jaman dahulu dikenal dengan unsur 4P , namun seiring berkembangnya jaman makin modern kini ada yang mengatakan marketing mix ada 7P artinya ada penambahan Tiga strategi lagi. bukan perkara salah atau benar dari kedua pendapat di atas tapi yang namanya strategi menurut saya kita bebas menambahkan selama apa yang ditambahkan bisa menjadikan strategi pemasaran yang kita lakukan semakin hebat.
Apa saja unsur – unsur marketing Mix baik 4P atau 7P tersebut, berikut disebutkan :
  1. Produk
  2. Price
  3. Promotion
  4. Place
  5. Partisipant / People
  6. Proses
  7. Physical Evidence





Marketing Mix Product
Description: Marketing Mix Produk

Produk sendiri terbagi dua yaitu produk nyata bisa dilihat dan produk tidak nyata atau jasa hanya bisa dirasakan tapi tidak bisa di lihat. Dalam hal produk perlu di perhatikan kualitas, layanan, dll karena konsumen ketika membeli bukan hanya sekedar ingin tapi juga membutuhkan dan harus kita perhatikan kepuasan konsumen terhadap produk yang kita tawarkan.
Produk adalah item yang dibangun atau diproduksi maupun dihasilkan sebuah perusahaan untuk memenuhi kebutuhan konsumen atau kelompok orang tertentu. Produk terbagi menjadi dua bagian atau kelompok yaitu produk berwujud seperti barang dan Produk tidak berwujud seperti jasa.
Pada tahap Marketing Mix Produk kita harus memastikan jenis atau kategori yang tepat dalam menghasilkan produk yang diminati pasar. Jadi, sebelum melakukan produksi dan pengembangan produk, pemasar riset yang ekstensive pada siklus hidup produk atau Produk Life Cycle yang di ciptakan.
Note: Produk Life Cycle ialah suatu grafik yang menggambarkan riwayat produk sejak diperkenalkan ke pasar.
Description: Produk Life Cycle

Produk memiliki siklus kehidupan tertentu yang termasuk fase pertumbuhan, kedewasaan fase dan fase penurunan penjualan (maturity phase, sales decline phase). Sangat penting bagi pemasar untuk menemukan kembali produk mereka untuk merangsang kembali permintaan lain dari pasar setelah mencapai fase penurunan penjualan. Para Marketer hendaknya memperhatikan betul bagaimana agar bisa membuat produk yang tepat, Ini bisa saja menjadi langkah bijaksana untuk memperluas produk dengan diversifikasi dan meningkatkan kedalaman lini produk bisnis perusahaan atau bisnis yang anda jalankan.
All In All Marketing Mix Product, Seorang pemasar harus bertanya pada diri sendiri dengan pertanyaan “Apa yang dapat saya lakukan untuk menawarkan produk yang lebih baik untuk konsumen bisnis saya agar bisa lebih baik dari pesaing bisnis”.


Marketing Mix Price
Strategi dalam menentukan harga yang kita tawarkan kepada konsumen , karena harga juga penentu apakah konsumen mau membeli produk kita atau tidak. Price (Harga) : Menurut Sumarni dan Soeprihanto (2010:281) harga adalah, “Jumlah uang (ditambah beberapa produk kalau mungkin) yang dibutuhkan untuk mendapatkan sejumlah kombinasi dari barang beserta pelayanannya”. Setelah produk yang diproduksi siap untuk dipasarkan, maka perusahaan akan menentukan harga dari produk tersebut.
Kombinasi Harga (Price Mix) : Setiap perusahaan harus dapat menetapkan kombinasi harga (price mix) dalam rangka memajukan promosi penjualan produknya. Kombinasi harga, selalu melibatkan daftar harga, potongan tambahan barang, jangka pembayarannya, dan kredit yang diberikan serta pemberian pelayanannya. Selain itu kebijaksanaan perusahaan yang berkaitan dengan potongan dan kelonggaran adalah hasil pengurangan dari harga dasar atau harga tercatat atau harga terdaftar (listprice). Daya tarik penjualan produk adalah merupakan elemen pokok dari penawaran yang akan dikomunikasikan oleh penjual. Maka dari itu salah satu daya tarik yang akan diberikan penjual kepada pembeli adalah dengan melaksanakan kombinasi harga (price mix). Pengurangan dapat berbentuk harga yang dipotong atau konsesi lain seperti pemberian sejumlah barang gratis. Potongan harga (discount) sering digunakan perusahaan untuk meningkatkan jumlah penjualan dan hasil penerimaan penjualan serta share pasar perusahaan. Perusahaan dapat memberikan potongan harga kepada pembeli yang membeli dalam jumlah besar(quantity discount) atau kepada pembeli yang membayar dengan tunai (cash discount). Begitu pula syarat-syarat pembayaran adalah merupakan strategi harga karena termasuk pertimbangan tingkat pengorbanan yang harus dipertimbangkan langganan atau pembeli akan mempertimbangkan salah satu faktor yang paling penting yaitu penjual atau produsen mana yang dapat memberikan pembayarannya yang paling lunak. Besarnya potongan yang diberikan produsen akan bertingkat sesuai dengan tingkat peranan pedagang dalam mata rantai penyaluran barang.
Secara lebih rinci kombinasi harga (price mix) yang dijalankan perusahaan itu adalah sebagai berikut.: Potongan harga, daftar harga dan tambahan hargaPotongan harga adalah pengurangan dari apa yang tercantum di dalam daftar harga, serta diberikan kepada yang bersedia melakukan sesuatu pembelian produk yang telah disepakati oleh penjual. Pemberian potongan harga dapat berwujud uang, atau tambahan barang. Sedangkan yang dimaksud dengan daftar harga adalah suatu daftar yang berisikan/memuat harga barang-barang untuk kepentingan penjual dan pembeli. Tambahan barang yang diberikan penjual terhadap pembeli ada kemungkinan barang-barang tersebut aus, susut, rusak, adapun potongan potongan harga yang diberikan penjual kepada pembeli, adalah sebagai berikut.
1)    Potongan fungsional(trade or functional discount) Potongan fungsional biasanya diberikan kepada para penyalur.
2)    Rabat : Rabat adalah potongan yang diberikan kepada pembeli dari penjual karena membeli barang dalam jumlah yang banyak. Potongan rabat disebut juga potongan kuantitas (quantity discount).
3)    Kontan (cash discount) Potongan ini, diberikan oleh penjual kepada pembeli karena membeli barang secara tunai atau membeli barang dalam jangka pendek.
4)    Potongan rafaksi adalah potongan khusus yang diberikan penjual kepada pembeli karena adanya perubahan perhitungan berat misalnya; akibat kerusakan yang terjadi selama barang dalam pengangkutan.
5)    Potongan order dini (early order discount) Potongan ini adalah potongan yang diberikan kepada pembeli karena order (pesanan) masih dini. Misalnya 3 bulan sebelum Idul Fitri
sudah pesan barangnya.
6)    Potongan kelompok (group discount) Potongan kelompok adalah potongan yang diberikan kepada pembeli yang dihimpun dalam kelompok (group) atau organisasi.
7)    Tarra, Tarra adalah potongan timbangan pembungkus barang yang diberikan penjual kepada pembeli, karena barang yang diserahkan ternyata barangnya masih terbungkus. Bentuk potongan lainnya adalah: 1) Potongan kuantitas, 2) Potongan dagang, 3) Potongan tunai, 4) Potongan musiman, 5) Kelonggaran promosi, 6) Kelonggaran komisi, 7) Kelonggaran barang
Untuk mengetahui secara jelas arti dan perbedaan dari masing-masing bentuk potongan di atas dapat diuraikan secara garis besar sebagai berikut:
1. Potongan kuantitas (Quantity Discount). Potongan kuantias adalah potongan dari harga yang tercatat yang ditawarkan penjual agar konsumen membeli dalam jumlah yang lebih besar dari biasanya atau bersedia memusatkan pembeliannya pada penjual yang sama. Potongan kuantitas dapat dilakukan dengan menggunakan dua macam cara yaitu:
a. Potongan kuantitas nonkumulatif yaitu potongan yang didasarkan pada jumlah setiap pesanan untuk satu atau beberapa produk, misalnya; pembeli dapat membeli satu unit barang dengan harga Rp1.000,00 tetapi kalau membeli 3 unit yang bersangkutan hanya cukup membayar Rp2.500,00 saja. Potongan kuantitas nonkumulatif ini dapat mendorong pembeli untuk memesan/membeli dalam jumlah yang lebih besar.
b. Potongan kuantitas kumulatif adalah potongan yang didasarkan pada volume total yang dibeli selama satu periode tertentu. Bagi penjual cara seperti ini dapat mengikat pembeli untuk membeli berkali-kali pada penjual yang sama. Tipe potongan ini terutama berguna bagi penjualan produk yang tidak tahan lama, karena konsumen dirangsang untuk membeli persediaan/stok baru secara lebih sering sehingga produk tidak akan basi/layu.
2. Potongan Dagang Potongan dagang sering juga disebut potongan fungsional adalah
potongan dari harga tercatat (daftar harga) yang ditawarkan kepada pembeli yang diharapkan mampu memiliki fungsi pemasaran (yang ikut memasarkan barangnya). Contoh; produsen dapat memberi harga eceran produsen sebesar Rp400,00 dengan potongan dagang sebesar 40% dan 10% yang berarti potongan diberikan kepada pengecer 40% dan kepada grosir 10% dimana pengecer harus membayar Rp240,00 (Rp400 – 40%), sedangkan grosir membangun kepada produsen hanya sebesar Rp 216 (Rp240 – 10%). perlu dicatat bahwa potongan
40% dan 10% bukan berarti bahwa jumlah potongan menjadi 50% dari harga tercatat.
3. Potongan Tunai/Kontan Adalah potongan yang diberikan kepada pembeli karena membayar kontan/tunai dalam jadwal pembayaran yang telah ditetapkan
sebelumnya. Potongan kontan pada dasarnya dihitung dari nilai sisa setelah dikurangi potongan kuantitas dan potongan dagang dari harga dasar. Tujuan dari memberikan potongan kontan adalah untuk mendapatkan dana tunai sebanyak mungkin sehingga dapat mengumpulkan modal kerja dengan cepat dan relatif murah. Dalam praktik di tanah air dewasa ini sering dikenal dua macam pembayaran kontan, yaitu:
- Kontan keras yakni pembayaran kontan yaitu uang tunai pada saat penyerahan barang.
- Pembayaran kontan adalah pembayaran selang beberapa waktu setelah barang diserahkan misalnya dua atau tiga minggu kemudian. Sebagai contoh yang banyak dilakukan dalam praktik khususnya untuk pembayaran kontan adalah pada saat barang diserahkan, pembeli memberikan cek mundur, yakni cek yang baru dapat uangkan ke bank beberapa hari atau minggu dan bahkan belum setelah penyerahan cek. Mengingat bahwa cek mundur biasanya dapat dipergunakan sebagai alat pembayaran transaksi dagang terhadap para relasi dagang, maka cek mundur dalam dunia perdagangan dianggap sebagai dana tunai. Oleh karena uang tunai bersifat lebih likuid dibandingkan dengan cek mundur, maka potongan keras biasanya lebih besar daripada potongan kontan.
4. Potongan Musiman. Potongan musiman adalah suatu pengurangan harga yang diberikan kepada pembeli yang membeli barang/jasa di kala musim sepi. Potongan musiman memungkinkan penjual dapat mempertahankan produksi yang lebih mantap selama satu tahun. Contoh; pabrik paying akan menawarkan potongan musiman kepada para pengecer pada musim panas untuk mendorong pesanan yang lebih awal.
5. Potongan Fungsional. Potongan fungsional sering juga dinamakan potongan dagang atau trade discount oleh produsen kepada anggota saluran distribusi yang melakukan fungsi fungsi tertentu seperti penjualan ataupun penyimpanan. Produsen pada dasarnya dapat menawarkan suatu potongan fungsional yang berbeda-beda kepada berbagai saluran distribusi karena perbedaan pelayanan yang dilakukan.


Pengertian promosi mix
Dalam lmu manajemen pemasaran adalah: Integrated Marketing Communication to make relationship – Money atau dalam bahasa indonesianya di buat pengertian yang lebih simple ialah : ” bauran atau paduan strategi pemasaran / promosi untuk membangun relasi yang bertujuan untuk menghasilkan keuntungan atau mendapatkan uang dari produk yang kita tawarkan.”.
Sedangkan Pengertian Promosi itu sendiri di artikan sebagai : system komunikasi yang di terapkan untuk membujuk ( persuade ), mengingatkan ( reminder ) bertujuan agar bisa mendapatkan pembeli yang berpotensial sehingga dengan begitu kita akan mendapatkan tanggapan dari target pasar berupa : membeli, menyiarkan kembali, atau menjadi customer kita.
Setelah kita melakukan beberapa hal yang berkaitan dengan kegiatan promosi maka kita akan mendapatkan respon atau tanggapan dari konsumen yang telah kita target melalui promosi, ada beberapa tanggapan yang bisa kita dapatkan dari konsumen diantaranya :
Awareness : mereka menyadari adanya produk atau jasa yang sebelumnya mereka tidak memperhatikan sama sekali.
Knowladge : konsumen jadi bertambah wawasannya atau paham akan produk atau jasa yang kita punya.
Liking : konsumen bisa jadi menyukai produk kita setelah melihat iklan atau promosi yang kita lakukan.
Preferen : Konsumen akan menjadikan promosi kita sebagai bahan referensi atau pilihan untuk membelinya.
Conviction : konsumen akan mendapatkan keyakinan terhadap produk kita dari berbagai aspek manfaat dan kebutuhan mereka akan produk tersebut.
Purchasing : konsumen akan melakukan pembelian atau berusaha untuk memiliki dan lain sebagainya setelah melihat tayangan promosi yang kita lakukan.


Tempat (Place) Marketing Mix
Adalah tempat dimana usaha dijalankan, namun lebih luas lagi dimana “place” tersebut merupakan segala kegiatan penyaluran produk berupa barang ataupun jasa dari produsen ke konsumen (distribusi).
Menurut Philip Kotler distribusi adalah : “The various the company undertakes to make the product accessible and available to target customer”. Berbagai kegiatan yang dilakukan perusahaan untuk membuat produknya mudah diperoleh dan tersedia untuk konsumen sasaran. Sedangkan Boom dan Bitner (dalam Dias & Shah, 2009:318), mereka menyebutkan bahwa lokasi pemasaran, terdapat beberapa pemain yang terlibat di dalamnya, yaitu marketing intermediary, channel of distribution, agen atau brokerwholesaler dan retailer, serta logistik dan transportasi.
Place (Tempat) distribusi dalam marketing mix : JIka mengacu dari kedua pendapat diatas, fungsi distribusi disini tak lain adalah untuk memastikan ketersediaan barang dan jasa yang dibutuhkan konsumen pada waktu dan tempat yang tepat. Berbagai saluran distribusi ini merupakan sebuah perangkat yang saling terkait satu sama lainnya dalam proses penyediaan produk/pelayanan untuk digunakan atau dikonsumsi.
Dalam saluran distribusi, semakin banyak perangkat yang digunakan biasanya akan mampu menjangkau populasi yang lebih luas. Semakin mudah produk didapatkan berarti proses distribusi semakin baik, dan penjualan produk berpeluang besar untuk meningkat. Untuk itulah saluran distribusi penting direncanakan dengan matang oleh pemasar.
Pemilihan saluran distribusi secara tepat memang harus dilakukan sejak dalam rencana, untuk mendapatkan hasil yang akurat biasanya para pemasar akan melakukan survey ataupun riset terlebih dahulu. Beberapa bahan pertimbangan yang bisa dijadikan acuan untuk pemilihan saluran disitribusi ini misalnya sifat pembeli, sifat produk, sifat perantara, sifat pesaing dan lain sebagainya.
Sifat pembeli merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi keputusan produsen dalam memilih saluran distribusi yang dipakai. Sifat-sifat tersebut bisa berupa perilaku para konsumen dalam mendapatkan produk, bagaimana kebiasaan belanjanya, frekuensi pembelian, letak geografisnya, dan lain-lain. Dari sifat pembeli yang berbeda tentu perusahaan akan mementukan saluran distribusi yang berbeda.
Sifat produk yang didistribusikan juga menjadi salah satu faktor penentu dalam memilih saluran distribusi. Jika barang mudah rusak tentu akan menggunakan sarana distribusi yang berbeda dengan barang yang kuat. Barang-barang yang masa kadaluwarsanya singkat (misal produk makanan) tentu akan berbeda cara menangani distribusinya. Sifat produk lainnya misalkan terkait dengan ukuran, harga, dan sebagainya.
Tak hanya sifat pembeli dan produk, sifat perantara-pun juga bisa menjadi bahan pertimbangan untuk pemilihan saluran distribusi, karena biasanya para perantara juga berfungsi sebagai pemasar, melakukan penyimpanan, pengangkutan, penjualan, pembelian dan sebagainya. Dalam kasus tertentu biasanya produsen justru melibatkan perantara kedalam saluran distribusi yang dipilihnya.
Cara distribusi yang dilakukan kompetitor juga bisa dijadikan pertimbangan oleh perusahaan dalam melakukan distribusi produknya. Hal ini terkait dengan kompetisi produk agar lebih cepat dan tepat sasaran ddibanding dengan pesaing yang ada. Jika produk yang akan dipasarkan adalah produk baru, maka harus dapat memunculkan strategi-strategi khusus agar dapat menrik perhatian cari calon konsumen.
Menentukan saluran distribusi produk sejak awal memang sangat penting. Dengan memperhatikan berbagai sifat dan karakteristik konsumen, produk, perantara, lingkungan dan yang lainnya, tentu akan bisa mendapatkan saluran distribusi yang tepat dan efektif.